[email protected] +62 858-9028-1080

Simak yuk, Kisah Lengkap Wakaf Pertama Rasulullah

wakafalazhar – Konsep wakaf pertama kali dikenalkan oleh Nabi Muhammad SAW selama periode awal Islam di Kota Madinah. Sejarah wakaf bermula pada saat Nabi Muhammad SAW memerintahkan para Sahabatnya untuk mendirikan masjid di Kota Madinah, yang dikenal sebagai Masjid Nabawi.

Pendirian Masjid Nabawi memiliki makna penting dalam sejarah Islam, karena selain sebagai tempat ibadah, pusat kegiatan sosial, keagamaan, dan politik umat Islam naun menjadi sejarah percontohan wakaf Umat Islam di dunia.

 

Penentuan Lokasi Pembangunan

Masjid Nabawi wakaf pertama Rasulullah SAW di Madinah didirikan setelah beliau membangun Masjid Quba. Ada kisah unik yang istimewa sebelum beliau memutuskan untuk membangun masjid di Kota Madinah ini.

Pada masa itu, sebelum dibangunnya Masjid Nabawi, Rasulullah SAW menunggangi unta dalam perjalanan menuju ke Kota Madinah. Ketika mendengar bahwa Rasulullah SAW hendak mengunjungi Madinah, maka seluruh umat muslim di kota tersebut berkumpul guna menyambut beliau.

Masyarakat Madinah satu per satu mulai menarik tali kekang pada unta Rasulullah, agar beliau berhenti, kemudian berkunjung dan tinggal di rumahnya. Rasulullah SAW pun mengucapkan sebuah kalimat:

“Jangan menarik tali kekang pada unta ini, karena ia telah menerima perintah dari Allah di mana ia akan berhenti.” Ucap Rasulullah.

Benar saja, setelah beliau mengucapkan kalimat tersebut, unta yang ditumpangi Rasulullah SAW akhirnya berhenti di depan bangunan milik dua anak yatim dari Bani Nijjar, yakni Suhail dan Sahl. Bangunan tersebut rupanya merupakan tempat yang digunakan untuk menjemur kurma.

Rasulullah SAW pun akhirnya memanggil kedua anak yatim tersebut dan menawar tanah milik mereka untuk dibeli. Akan tetapi, sungguh mulia niat anak yatim tersebut karena ia berkata “Justru kami akan memberikannya kepada Anda wahai Rasulullah SAW”.

Mendengar pernyataan dari kedua anak yatim di hadapannya tersebut, tidak membuat Rasulullah SAW langsung menerima tanah pemberian mereka. Beliau akhirnya berdiskusi hingga mendapati harga yang pantas untuk menebus tanah tersebut, tentunya dengan kesepakatan.

 

Proses Pembangunan

Dua Belas Hari Pengerjaan

Lokasi pemberhentian unta yang mana berada di depan bangunan milik dua anak yatim dari Bani Nijjar akhirnya menjadi lokasi pembangunan Masjid Nabawi. Pembangunan Masjid Nabawi wakaf pertama Rasulullah SAW hanya membutuhkan waktu 12 hari saja.

Tentunya jika dibayangkan dari waktu pembangunan, masjid ini dibangun dengan sangat sederhana untuk pertama kalinya hingga akhirnya menjadi salah satu bangunan megah seperti sekarang ini.

 

Luas Masjid Nabawi Pertama Kali Dibangun

Luas awal Masjid Nabawi juga tidak seluas bangunan yang sekarang, yakni panjang sekitar 70 hasta dan lebar sekitar 60 hasta atau jika dijadikan satuan meter sekitar 35 meter x 30 meter. Pada masa Rasulullah SAW, bahan yang digunakan untuk membuat atap masjid adalah pelepah kurma.

Sedangkan bagian lantai dibuat dari batu dan ketika itu pintu masjid terdiri dari 3 pintu yang sangat sederhana. Nah, untuk pembangunan masjid, Rasulullah SAW mempercayakannya kepada orang-orang yang sudah ahli di bidang pembangunan.

 

Riwayat tentang Pembangunan Masjid Nabawi

Ada sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang ditujukan kepada para sahabat-sahabatnya yang ikut serta dalam pembangunan Masjid Nabawi, yakni sebagai berikut:

“Dekatkanlah Al Yamami ke tanah itu, karena sentuhan dia terbaik di antara kalian dan paling kuat adonannya.”

Akan tetapi terdapat riwayat lainnya lagi, yakni dari Al Yamami yang berkata “Aku mencampurkan tanah lalu seakan campuranku ini menakjubkan beliau, dan Rasulullah SAW “Biarkanlah Al Yamami Al Hanafi dengan tanah karena dia paling ahli urusan tanah dari kalian.”

Tidak hanya Al Yamami saja yang memiliki semangat hebat untuk ikut serta dalam pembangunan Masjid Nabawi wakaf pertama Rasulullah SAW, ada pula sahabat nabi bernama Ammar bin Yassir yang memiliki semangat tinggi dalam pengerjaan masjid.

 

Renovasi

Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin banyak, dan masjid menjadi penuh, Rasulullah pun mengambil kebijakan memperluas Masjid Nabawi. Beliau tambahkan masing-masing 20 hasta untuk panjang dan lebar. Utsman bin Affan adalah orang yang menanggung biaya pembebasan tanah untuk perluasan masjid saat itu. Peristiwa ini terjadi sepulangnya beliau dari Perang Khaibar.

Sepeninggal Rasulullah SAW, Masjid Nabawi terus diperluas oleh sahabat dan penerus beliau. Masjid ini juga mengalami renovasi pada masa Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H. Renovasi berikutnya dilakukan masa Khalifah Usman bin Affan yang memerintah pada 29 H.

Perbaikan terhadap Masjid Nabawi juga dilakukan pada zaman pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah. Umar bin Abdul Aziz yang ketika itu menjabat sebagai gubernur Madinah al-Munawarah memerintahkan pembangunan kembali Masjid Nabawi. Dalam kesempatan itu, Umar bin Abdul Aziz menambahkan mihrab bagian dalam.

Ini merupakan mihrab pertama yang digunakan pada interior masjid. Saat itu, mihrab dibuat berbentuk ceruk pada dinding dan berfungsi sebagai penanda arah kiblat. Selain itu, ia juga membangun empat menara dan membuat 20 pintu masuk. Proyek pemugaran dan perluasan tersebut selesai pada 91 H atau 711 M.

Pada masa Khalifah Al-Mahdi dari Daulah Abbasiyah, pada bangunan Masjid Nabawi, ditambahkan maqshurah di bagian shaf awal. Maqshurah merupakan ruangan di bagian depan yang digunakan untuk membawa jenazah masuk untuk dishalatkan.

Bangunan Masjid Nabawi mengalami renovasi kembali di bawah pemerintahan Sultan Ashraf Qait Bey dari Dinasti Mamluk. Pada masa ini, dibangun dua buah kubah tepat di atas makam Rasulullah SAW dan memasang pagar pembatas di sekitar makam Nabi SAW. Sultan Abdul Majid, penguasa Turki Usmani, melakukan perluasan halaman di belakang maqshurah.

 

Renovasi Terbesar

Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Arab Saudi meluaskan masjid ini menjadi 6.042 meter persegi pada 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd. Pada bulan Safar 1405 H atau November 1984 M, beliau meletakkan batu pertama proyek perluasan Masjid Nabawi yang paling signifikan dan termegah sepanjang sejarah.

Setelah sempat tertunda satu tahun; pada Muharram 1406 H atau Oktober 1985, dimulailah proyek besar ini dengan menggusur bangunan hotel-hotel bertingkat, pasar, dan kompleks pertokoan di sekitarnya yang berdiri di atas tanah seluas 100 ribu meter persegi. Kemudian, di atas tanah tersebut dibangun masjid baru seluas 82 ribu meter persegi yang mengitari dan menyatu dengan bangunan yang sudah ada.

Di era Khadimul Haramain Raja Abdullah juga dilakukan renovasi yang besar pada Masjid Nabawi, bahkan tercatat sebagai perbaikan atau perluasan paling besar di sepanjang sejarah. Salah satu mega proyek dari renovasi ini adalah payung-payung raksasa yang kini bisa dijumpai ketika pergi ibadah haji maupun umroh.

Selain itu, Raja Abdullah juga menginstruksikan untuk memasang tiang-tiang marmer yang tersebar di seluruh halaman Masjid Nabawi dan jumlahnya sekitar 250 buah. Informasi terbaru, ada setidaknya 6 jalur yang diberi payung raksasa, yakni jalur yang berada di sebelah jalur selatan.

Masjid Nabawi menjadi wakaf Rasulullah SAW yang sangat istimewa, sehingga sangat dimuliakan, bahkan beliau juga bersabda bahwa siapapun yang beribadah di Masjid Nabawi akan mendapatkan pahala berlipat ganda sampai 1.000 kali lipat.

 

Wakaf, Jariyah Tak Putus

Wakaf tidak hanya memenuhi kepentingan umum namun juga memperkuat solidaritas sosial sekaligus investasi pahala bagi yang mengeluarkan wakaf (wakif). Jadi tunggu apa lagi, ayo wakaf sekarang di Wakaf Al Azhar!

Lorem Ipsum

Leave Your Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *